paingsoe – Gelombang restrukturisasi yang melanda industri game masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Salah satu perusahaan yang paling terdampak adalah Ubisoft, yang dalam setahun terakhir terus melakukan penyesuaian besar terhadap struktur organisasinya.
Setelah memangkas sekitar seribu karyawan dalam berbagai tahap restrukturisasi sebelumnya, perusahaan asal Prancis tersebut kini kembali mengumumkan perubahan besar yang mencakup penutupan studio, pengurangan tenaga kerja, hingga perubahan fokus pada sejumlah tim internal.
Langkah ini dilakukan di tengah upaya Ubisoft untuk menstabilkan kondisi bisnis yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan besar. Nilai perusahaan terus mengalami penurunan, sementara sejumlah game yang dirilis gagal memenuhi ekspektasi pasar.
“Baca Juga: Rumor Sebut Persona 6 Incar Jadwal Rilis 2027″
Melalui pesan yang dibagikan kepada karyawan melalui kanal komunikasi internal, Ubisoft menjelaskan bahwa perubahan organisasi ini bertujuan menyederhanakan operasional perusahaan, menekan biaya, dan memperkuat fondasi bisnis untuk jangka panjang.
Perusahaan juga menyebut keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap portofolio proyek yang sedang dikembangkan. Hasil evaluasi itu mendorong Ubisoft untuk mengubah prioritas dan memusatkan sumber daya pada area yang dianggap lebih strategis.
Restrukturisasi terbaru ini menjadi salah satu perubahan terbesar yang dilakukan Ubisoft sepanjang 2026 dan menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam fase transformasi yang cukup berat.
Ubisoft Tutup Studio di Winnipeg dan Belgrade
Sebagai bagian dari restrukturisasi terbaru, Ubisoft mengonfirmasi penutupan dua studio mereka yang berlokasi di Winnipeg, Kanada, dan Belgrade, Serbia.
Penutupan studio tersebut menjadi langkah yang cukup signifikan karena keduanya selama ini berkontribusi pada berbagai proyek Ubisoft, baik sebagai tim pendukung maupun pengembang untuk sejumlah franchise besar.
Selain menutup dua studio, Ubisoft juga memulai proses konsultasi untuk melakukan restrukturisasi pada studio mereka di Barcelona, Spanyol.
Ke depan, studio Barcelona akan lebih difokuskan untuk mendukung pengembangan franchise Rainbow Six. Langkah ini menunjukkan bahwa Ubisoft ingin memusatkan sumber daya pada waralaba yang masih memiliki potensi pertumbuhan besar.
Perusahaan belum menjelaskan secara rinci proyek-proyek apa saja yang akan terdampak akibat perubahan ini. Namun, fokus yang lebih besar terhadap Rainbow Six menunjukkan bahwa Ubisoft masih mengandalkan franchise live service sebagai salah satu pilar bisnis utama mereka.
Penutupan studio tentu menjadi kabar yang mengecewakan bagi banyak pihak. Namun, dari sudut pandang bisnis, langkah tersebut dianggap sebagai upaya untuk mengurangi biaya operasional dan meningkatkan efisiensi.
Ubisoft tampaknya ingin membangun struktur yang lebih ramping agar dapat beradaptasi dengan kondisi industri yang semakin kompetitif.
Hingga 380 Karyawan Berpotensi Terdampak Restrukturisasi
Restrukturisasi yang dilakukan Ubisoft tidak hanya berdampak pada studio, tetapi juga terhadap ratusan karyawan di berbagai divisi.
Perusahaan memperkirakan sekitar 380 karyawan berpotensi terdampak oleh perubahan yang sedang berlangsung. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah sesuai hasil akhir proses restrukturisasi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Insider Gaming, sekitar 65 karyawan di Ubisoft Winnipeg terdampak bersamaan dengan penutupan studio tersebut.
Sementara itu, sekitar 100 karyawan di studio Belgrade juga berpotensi kehilangan pekerjaan setelah operasi studio dihentikan.
Di Ubisoft Barcelona, sekitar 51 posisi dilaporkan terdampak akibat perubahan fokus pengembangan yang kini lebih terarah pada franchise Rainbow Six.
Tidak hanya itu, sekitar 120 posisi di tim Rainbow Six Siege juga disebut akan dikurangi. Pengurangan tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam restrukturisasi kali ini.
Selain studio pengembangan, divisi publishing Ubisoft di San Francisco juga dikabarkan mengalami pemutusan hubungan kerja. Namun hingga kini, perusahaan belum mengungkap jumlah pasti karyawan yang terdampak.
Jika seluruh angka tersebut dikonfirmasi, maka total pengurangan tenaga kerja Ubisoft dalam beberapa tahun terakhir akan semakin besar dan menunjukkan betapa seriusnya tantangan yang sedang mereka hadapi.
Penyesuaian Juga Terjadi di Divisi Publishing Global
Perubahan yang dilakukan Ubisoft tidak terbatas pada tim pengembang game. Perusahaan juga melakukan restrukturisasi di divisi publishing global mereka.
Menurut Ubisoft, perubahan ini dilakukan untuk mengubah cara tim dibentuk dan didistribusikan di berbagai wilayah. Tujuannya adalah menciptakan struktur yang lebih efisien dan mampu merespons perubahan pasar dengan lebih cepat.
Dalam beberapa tahun terakhir, model bisnis industri game telah mengalami perubahan besar. Pengembangan game semakin mahal, sementara persaingan antar perusahaan menjadi semakin ketat.
Di sisi lain, ekspektasi pemain terhadap kualitas game juga terus meningkat. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan, termasuk Ubisoft, harus meninjau ulang cara mereka mengelola organisasi.
Restrukturisasi di divisi publishing diperkirakan akan memengaruhi cara Ubisoft memasarkan dan mendukung game-game mereka di masa depan.
Perusahaan tampaknya ingin membangun sistem yang lebih sederhana dan fleksibel. Dengan struktur yang lebih ramping, Ubisoft berharap dapat mengurangi biaya sekaligus meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan.
Meski demikian, perubahan seperti ini sering kali membawa konsekuensi besar bagi karyawan yang terdampak.
Karena itu, restrukturisasi Ubisoft kembali memunculkan diskusi mengenai tantangan yang sedang dihadapi industri game secara keseluruhan.
“Baca Juga: Apple Dikabarkan Siapkan MacBook Layar Sentuh”
Ubisoft Masih Berjuang Menstabilkan Bisnis di Tengah Tekanan Industri
Restrukturisasi terbaru ini kembali memperlihatkan kondisi sulit yang sedang dialami Ubisoft. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari performa game yang tidak memenuhi target hingga penurunan nilai perusahaan.
Sejumlah proyek besar Ubisoft mengalami penundaan, sementara beberapa game gagal mencapai ekspektasi penjualan. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk melakukan berbagai langkah penghematan.
Pengurangan tenaga kerja dan penutupan studio kini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Ubisoft untuk menstabilkan bisnis mereka.
Meski perusahaan masih memiliki franchise besar seperti Assassin’s Creed, Rainbow Six, dan Far Cry, tekanan untuk menghasilkan game yang sukses secara komersial terus meningkat.
Ubisoft juga harus menghadapi perubahan tren industri yang semakin mengarah pada game live service, layanan berlangganan, dan biaya produksi yang terus naik setiap tahun.
Karena itu, restrukturisasi kemungkinan belum menjadi langkah terakhir yang akan dilakukan perusahaan. Selama proses transformasi masih berlangsung, perubahan organisasi dan evaluasi proyek diperkirakan akan terus terjadi.
Bagi Ubisoft, tantangan terbesar saat ini bukan hanya mengurangi biaya, tetapi juga menemukan kembali formula yang dapat mengembalikan kepercayaan pemain dan memperkuat posisi mereka di industri game global.



