paingsoe – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang di Iran diperkirakan akan segera berakhir. Ia menggambarkan sepuluh hari operasi militer terakhir sebagai sebuah “ekspedisi jangka pendek”.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada media di Doral, Florida. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu telah menimbulkan kehancuran besar di berbagai wilayah Iran.
“Baca Juga: Rudal Iran Hantam Israel Saat Netanyahu Ancam Khamenei”
Perang antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Laporan dari berbagai sumber menyebut ribuan orang telah tewas sejak konflik dimulai.
Meski demikian, Trump menegaskan operasi militer dianggap berhasil mencapai target utama. Ia mengatakan sebagian besar kemampuan militer Iran telah dilumpuhkan dalam waktu singkat.
AS dan Israel Klaim Telah Menyerang 5.000 Target Militer Iran
Trump menyebut bahwa pasukan Amerika Serikat dan Israel telah menyerang sekitar 5.000 target di Iran. Serangan tersebut dilakukan sejak awal konflik pada akhir Februari.
Target yang diserang meliputi berbagai fasilitas militer Iran. Infrastruktur pertahanan, fasilitas komunikasi, serta basis produksi senjata menjadi sasaran utama.
Konflik ini juga dipicu oleh peristiwa besar pada awal perang. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas ketika operasi militer dimulai.
Setelah kematian tersebut, kelompok garis keras di Iran menyatakan dukungan kepada pemimpin baru negara itu. Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya, kemudian dikonfirmasi sebagai pemimpin baru Iran.
Penunjukan tersebut terjadi di tengah tekanan militer yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan Israel.
Trump Ancam Serangan Lebih Besar Jika Iran Blokir Selat Hormuz
Trump juga memberikan peringatan keras kepada Iran terkait jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Ia mengatakan Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran memblokir jalur energi global tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini telah menyebabkan lonjakan harga energi global.
Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih besar jika mencoba menghentikan pengiriman minyak melalui selat tersebut.
Ia menyebut tindakan Iran sebagai upaya menyandera pasokan energi dunia. Oleh karena itu, pemerintah AS siap mengambil langkah militer tambahan jika diperlukan.
Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan di Selat Hormuz
Ketegangan di kawasan Teluk telah memberikan dampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga lebih dari 119 dolar per barel.
Lonjakan harga tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak dunia. Selat Hormuz menjadi salah satu jalur paling vital dalam perdagangan energi internasional.
Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap hari. Ketidakstabilan di kawasan tersebut membuat banyak negara memantau situasi dengan cermat.
Kenaikan harga energi juga berpotensi memberikan dampak luas terhadap ekonomi global.
“Baca Juga: Ramadan Dorong Pesanan Tokopedia dan TikTok Shop”
AS Klaim Kemampuan Drone dan Rudal Iran Telah Melemah
Trump juga menyampaikan perkembangan terbaru mengenai kemampuan militer Iran. Ia mengatakan pasukan Amerika Serikat dan Israel terus menargetkan fasilitas produksi drone dan rudal Iran.
Menurut Trump, lokasi produksi drone Iran kini telah teridentifikasi sepenuhnya. Serangan dilakukan secara bertahap terhadap fasilitas-fasilitas tersebut.
Ia juga mengklaim kemampuan rudal Iran telah mengalami penurunan drastis. Trump memperkirakan kapasitas rudal Iran kini hanya tersisa sekitar 10 persen dari kemampuan sebelumnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari klaim keberhasilan operasi militer yang sedang berlangsung. Namun situasi di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang seiring konflik yang belum sepenuhnya berakhir.



