paingsoe – Belum genap satu bulan sejak dirilis, Luna Abyss justru harus menghadapi kabar yang mengejutkan. Seluruh anggota Kwalee Labs, studio yang mengembangkan game cosmic horror tersebut, dikabarkan telah kehilangan pekerjaan mereka, mulai dari jajaran pimpinan hingga staf pengembang.
Kabar ini menjadi pukulan besar bagi tim yang selama bertahun-tahun mengerjakan Luna Abyss. Game tersebut memang hadir sebagai IP baru yang harus bersaing di tengah pasar game yang semakin padat. Sayangnya, performa komersial yang kurang memuaskan diduga membuat masa depan studio tidak dapat dipertahankan.
Hingga saat ini, baik Kwalee maupun Kwalee Labs belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan di balik keputusan tersebut. Namun, berbagai pernyataan dari mantan karyawan menunjukkan bahwa seluruh tim memang telah dibubarkan.
“Baca Juga: PUBG Hadirkan Uji Coba Mode AI Pendamping Ally Duo”
Seluruh Tim Developer Luna Abyss Dikabarkan Kena PHK Setelah Game Dirilis
Laporan mengenai PHK massal di Kwalee Labs pertama kali mencuat melalui unggahan di LinkedIn. Hollie Emery, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO sekaligus Production Director di Kwalee Labs, mengungkap bahwa seluruh anggota timnya telah kehilangan pekerjaan.
Dalam unggahannya, Emery mengatakan dirinya tetap bangga karena Luna Abyss akhirnya berhasil dirilis setelah melewati proses pengembangan yang panjang dan penuh tantangan.
Ia menyebut proyek tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam karier banyak anggota tim. Namun, keputusan untuk memberhentikan seluruh staf disebut berada di luar kendali mereka.
Emery tidak menjelaskan secara spesifik alasan di balik kebijakan tersebut. Meski demikian, pernyataannya mengindikasikan bahwa penutupan studio merupakan keputusan bisnis yang tidak bisa dihindari.
Kabar ini dengan cepat menyebar di komunitas game dan memunculkan simpati terhadap para pengembang yang terdampak.
CEO Kwalee Labs Sebut Pengembangan Luna Abyss Jadi Perjalanan yang Berat
Dalam pernyataannya, Hollie Emery menggambarkan perjalanan pengembangan Luna Abyss sebagai proses yang penuh tantangan. Menurutnya, tim harus bekerja keras untuk mewujudkan visi game cosmic horror tersebut di tengah berbagai keterbatasan.
Meski begitu, ia merasa bangga karena seluruh anggota tim mampu menyelesaikan proyek hingga akhirnya dirilis ke publik. Emery juga mengapresiasi dedikasi para pengembang yang telah memberikan kontribusi besar selama proses produksi berlangsung. Ia mengatakan bahwa setiap anggota tim memainkan peran penting dalam mewujudkan Luna Abyss.
Namun, kebanggaan tersebut harus bercampur dengan kenyataan pahit. Tak lama setelah game diluncurkan, seluruh anggota studio justru harus kehilangan pekerjaan.
Situasi ini menjadi salah satu contoh betapa kerasnya persaingan di industri game modern. Bahkan, keberhasilan merilis sebuah game belum tentu cukup untuk menjamin keberlangsungan sebuah studio.
PHK Berdampak pada Seluruh Posisi Penting di Kwalee Labs
Menurut Emery, PHK yang terjadi di Kwalee Labs tidak hanya menyasar sebagian karyawan. Seluruh anggota tim terdampak tanpa terkecuali. Beberapa posisi yang disebut kehilangan pekerjaan antara lain character artist, environment artist, lead game designer, narrative designer, penulis, hingga programmer.
Dengan kata lain, seluruh struktur pengembangan Luna Abyss praktis dibubarkan. Saat ini, para mantan anggota Kwalee Labs disebut tengah mencari kesempatan baru di industri game.
Sebagian dari mereka mulai membagikan portofolio dan pengalaman kerja melalui media sosial profesional. Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana perubahan bisnis di industri game dapat berdampak besar terhadap para pengembang.
Dalam beberapa tahun terakhir, PHK massal memang menjadi fenomena yang semakin sering terjadi. Banyak studio harus melakukan efisiensi atau bahkan menutup operasional setelah proyek mereka gagal memenuhi target bisnis.
Luna Abyss Hanya Raih Peak Player 317 Pemain di Steam
Luna Abyss dirilis pada 21 Mei lalu dan menjadi satu-satunya proyek yang pernah dikembangkan oleh Kwalee Labs. Game ini mengusung genre first-person shooter dengan tema cosmic horror dan elemen eksplorasi yang cukup kuat.
Sejak pertama kali diperkenalkan, Luna Abyss sempat menarik perhatian berkat gaya visual yang unik dan atmosfer yang misterius. Namun, performa game setelah dirilis ternyata jauh dari harapan.
Berdasarkan data Steam, Luna Abyss hanya mampu mencapai peak player sebanyak 317 pemain. Jumlah pemain hariannya bahkan berada di bawah 50 orang.
Angka tersebut tergolong sangat kecil untuk sebuah game baru, terlebih yang dikembangkan selama beberapa tahun. Rendahnya jumlah pemain diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan bisnis terkait masa depan Kwalee Labs. Meski tidak ada konfirmasi resmi mengenai kaitan langsung antara performa game dan PHK, banyak pihak menilai keduanya sulit dipisahkan.
“Baca Juga: AMD Korbankan iGPU, Zen 6 Olympic Ridge Usung NPU”
Kehadiran di Xbox Game Pass Tidak Mampu Selamatkan Luna Abyss
Salah satu hal yang cukup mengejutkan adalah fakta bahwa Luna Abyss juga tersedia melalui Xbox Game Pass. Biasanya, kehadiran sebuah game di layanan berlangganan Microsoft dapat membantu meningkatkan eksposur dan jumlah pemain.
Namun, dalam kasus Luna Abyss, strategi tersebut tampaknya belum mampu memberikan dampak yang signifikan. Game tersebut tetap kesulitan menarik perhatian pemain dalam jumlah besar.
Persaingan yang semakin ketat di industri game menjadi salah satu penyebabnya. Setiap bulan, puluhan hingga ratusan game baru dirilis di berbagai platform.
Bagi IP baru yang belum memiliki basis penggemar kuat, menarik perhatian pemain menjadi tantangan yang sangat besar. Nasib Luna Abyss pun menjadi pengingat bahwa kualitas dan ide menarik saja terkadang belum cukup untuk menjamin kesuksesan komersial. Kini, seluruh anggota Kwalee Labs harus memulai babak baru dalam karier mereka.
Sementara itu, Luna Abyss kemungkinan akan dikenang sebagai proyek ambisius yang lahir dari tim berbakat, tetapi tidak mampu bertahan menghadapi kerasnya persaingan industri game modern.




