paingsoe – Section 9 merupakan studio pengembang game asal Swedia yang didirikan oleh dua bersaudara, Marcus Ottvall dan Matthews Ottvall. Studio ini sebelumnya dikenal lewat keterlibatan mereka dalam pengembangan judul populer seperti Little Nightmares dan Little Big Planet. Pada awal 2026, Section 9 secara resmi mengumumkan End of Abyss sebagai game terbaru yang sedang mereka kembangkan.
“Baca Juga: GPU RDNA 5 Dijadwalkan Meluncur oleh AMD di 2027″
Pengumuman tersebut menarik perhatian karena menandai langkah mandiri Section 9 dengan IP orisinal. End of Abyss diposisikan sebagai proyek ambisius yang mencerminkan evolusi visi kreatif studio, sekaligus menjauh dari pendekatan desain yang lebih ringan menuju pengalaman yang lebih atmosferik dan serius.
End of Abyss Berawal dari Game Action Kartunis
Dalam wawancara dengan GamesRadar+, Marcus Ottvall menjelaskan bahwa End of Abyss pada awalnya dirancang sebagai game action bergaya kartun. Konsep awalnya menyerupai top-down twin stick shooter dengan tempo cepat, pergerakan gesit, serta sistem dodge yang agresif.
Pendekatan tersebut membuat game terasa ringan dan dinamis. Namun, seiring proses pengembangan berjalan, tim Section 9 mulai mengevaluasi ulang arah desain yang ingin mereka ambil, baik dari sisi gameplay maupun atmosfer keseluruhan.
Beralih ke Metroidvania Top-Down Bernuansa Gelap
Marcus mengungkapkan bahwa perubahan besar terjadi ketika tim menyadari masih sedikit game Metroidvania dengan sudut pandang top-down. Ketertarikan pada celah konsep tersebut mendorong Section 9 untuk mengeksplorasi genre tersebut lebih dalam. Dari titik ini, End of Abyss mulai bergeser ke pendekatan Metroidvania dengan struktur eksplorasi yang lebih kompleks.
Perubahan genre ini juga berdampak langsung pada nuansa visual dan tempo permainan. Section 9 mulai meninggalkan gaya kartunis dan bergerak ke atmosfer yang lebih serius dan gelap. Inspirasi diambil dari anime fiksi ilmiah serta film horor klasik, yang kemudian membentuk identitas End of Abyss sebagai game dengan tekanan atmosfer yang kuat dan gameplay yang lebih lambat.
Elemen Horor Mengubah Ritme dan Pengalaman Bermain
Masuknya elemen horor menjadi faktor penting dalam transformasi End of Abyss. Menurut Marcus Ottvall, kehadiran horor secara alami menuntut perubahan ritme permainan. Jika sebelumnya gameplay mengandalkan kecepatan dan refleks, versi terbaru End of Abyss lebih menekankan kehati-hatian, ketegangan, dan eksplorasi bertahap.
Pendekatan ini membuat pemain dituntut untuk membaca lingkungan dengan cermat. Setiap pergerakan dan keputusan menjadi lebih bermakna, sejalan dengan atmosfer gelap yang ingin dibangun oleh Section 9. Dengan demikian, End of Abyss tidak hanya berubah secara visual, tetapi juga secara fundamental dalam filosofi desain gameplay-nya.
“Baca Juga: Nvidia Perkenalkan Vera Rubin di CES 2026, Gantikan Blackwell”
Fitur Scanner Jadi Kunci Eksplorasi Dunia Game
Meski detail cerita masih dirahasiakan, Matthews Ottvall memberikan gambaran mengenai salah satu fitur utama End of Abyss, yaitu scanner. Alat ini dirancang untuk membantu pemain dalam proses eksplorasi dunia game yang kompleks. Dengan melakukan pemindaian lingkungan dan makhluk di sekitar, pemain dapat memperoleh informasi tambahan serta petunjuk tersembunyi.
Menurut Matthews, fitur ini bertujuan mengurangi rasa tersesat yang kerap muncul dalam game Metroidvania. Scanner memungkinkan pemain menandai titik-titik penting di peta, sehingga mempermudah navigasi dan perencanaan rute eksplorasi berikutnya. Pendekatan ini diharapkan membuat eksplorasi terasa lebih intuitif tanpa mengurangi tantangan yang menjadi ciri khas genre Metroidvania.




