paingsoe – Lembaga riset pasar Counterpoint Research memproyeksikan kelesuan pasar system-on-chip global pada 2026. Dalam analisis terbarunya, pengiriman SoC dunia diperkirakan turun hingga tujuh persen secara tahunan. Penurunan ini menandai perlambatan signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Counterpoint menilai tekanan datang dari sisi biaya dan perubahan prioritas industri. Permintaan global belum sepenuhnya pulih pascapandemi. Di saat yang sama, struktur rantai pasok semikonduktor mengalami penyesuaian besar. Kondisi ini membuat pasar SoC menghadapi tantangan ganda. Baik produsen maupun OEM harus menyesuaikan strategi bisnisnya. Tahun 2026 dipandang sebagai periode transisi yang sulit. Pemulihan jangka pendek belum terlihat dalam proyeksi saat ini.
“Baca Juga: Spectacles Jadi Jalan Snapchat Masuk Pasar Smart Glasses”
Kenaikan Harga Memori dan Fokus Industri ke AI
Menurut Counterpoint, laporan yang dikutip oleh Fonearena menyoroti kenaikan harga memori sebagai faktor utama. Stok memori global dilaporkan semakin menipis. Pabrikan semikonduktor kini lebih memprioritaskan produksi high bandwidth memory. HBM memiliki margin tinggi dan dibutuhkan pusat data AI. Akibatnya, pasokan memori untuk smartphone menjadi terbatas. Biaya komponen SoC pun meningkat secara signifikan. Fokus industri terhadap pengembangan kecerdasan buatan mempercepat pergeseran ini. Produsen memori memilih segmen dengan keuntungan lebih besar. Dampaknya terasa langsung pada pasar perangkat konsumen. Kenaikan biaya menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan volume SoC. Kondisi ini diperkirakan berlanjut sepanjang 2026.
Tekanan Berat pada Segmen Smartphone Harga Terjangkau
Segmen smartphone dengan harga di bawah 150 dolar AS diperkirakan paling terdampak. SoC untuk perangkat 4G dan 5G kelas bawah menghadapi tekanan besar. Vendor SoC di segmen ini harus berhadapan dengan margin yang semakin tipis. Kenaikan harga memori sulit dialihkan ke konsumen. Daya beli pasar berkembang juga masih terbatas. Hal ini membuat produsen harus menekan biaya di sisi lain. Counterpoint menilai tekanan 2026 lebih berat dibanding tahun sebelumnya. OEM kemungkinan akan mengurangi jumlah model murah. Fokus beralih pada optimalisasi produk yang ada. Strategi volume tinggi dengan margin rendah semakin berisiko. Kondisi ini mempercepat konsolidasi di pasar SoC kelas bawah.
Keunggulan Vendor Besar dengan SoC In-House
Vendor besar yang mengembangkan SoC sendiri dinilai lebih siap menghadapi 2026. Perusahaan seperti Samsung, Google, Huawei, dan Xiaomi memiliki fleksibilitas lebih besar. Mereka dapat mengontrol desain, biaya, dan pasokan SoC secara internal. Strategi ini membantu meredam fluktuasi harga komponen. Meski volume pengiriman turun, pendapatan diperkirakan tetap kuat. Tren premiumisasi masih berlanjut di pasar smartphone. OEM cenderung menjual perangkat lebih mahal dengan margin lebih sehat. Namun, Counterpoint menilai pemulihan volume belum akan terjadi sebelum 2027. OEM akan merampingkan portofolio sambil meningkatkan efisiensi produk.
“Baca Juga: Pemeran Farah Kaget Remake Prince of Persia Dibatalkan”
Transisi Fabrikasi 3nm ke 2nm dan Peta Persaingan SoC
Pasar SoC smartphone juga memasuki fase penting dalam teknologi fabrikasi. Industri mulai beralih dari proses 3nm menuju 2nm. Samsung Exynos 2600 diproyeksikan menjadi SoC pertama berbasis proses 2nm. Setelah itu, pemain SoC premium akan mengikuti di generasi berikutnya. Transisi ini sejalan dengan strategi premiumisasi perangkat. Apple dan Qualcomm diperkirakan paling diuntungkan dari tren ini. MediaTek disebut akan memperkuat posisinya di segmen Android. Persaingan di kelas premium diprediksi semakin ketat. Samsung juga akan memperluas adopsi SoC premium. Langkah ini diperkirakan hadir di lini Galaxy S26. Tahun 2026 menjadi fondasi penting menuju siklus teknologi berikutnya.




