paingsoe – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri perang terhadap Iran akan dibahas bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Minggu, 8 Maret 2026. Ia menyampaikan hal itu saat wawancara telepon singkat dengan surat kabar Times of Israel.
“Baca Juga: Perang Iran Telan Rp101 Triliun Dana AS”
Trump mengatakan bahwa keputusan tersebut akan dipertimbangkan secara bersama, meskipun keputusan akhir tetap berada di tangannya. Ia menegaskan bahwa dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Netanyahu mengenai perkembangan konflik tersebut. Menurut Trump, keputusan akan diambil pada waktu yang dianggap tepat.
Ketika ditanya apakah Israel akan memiliki pengaruh dalam keputusan tersebut, Trump menjawab bahwa diskusi dengan Israel memang berlangsung. Namun ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai mekanisme pengambilan keputusan. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya koordinasi antara Washington dan Tel Aviv.
Trump juga menolak memberikan komentar mengenai kemungkinan Israel melanjutkan serangan jika Amerika Serikat menghentikan operasi militernya. Ia mengatakan bahwa menurutnya situasi tersebut kemungkinan tidak akan terjadi. Pernyataan ini menambah ketidakpastian mengenai arah konflik dalam waktu dekat.
Gedung Putih Sebut Konflik Bisa Berlangsung Hingga Enam Minggu
Sebelumnya, Gedung Putih menyatakan bahwa konflik kemungkinan berlangsung antara empat hingga enam minggu. Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 6 Maret 2026. Namun jangka waktu tersebut disebut dapat berubah seiring perkembangan situasi militer di lapangan.
Dalam beberapa kesempatan, Trump juga menolak menetapkan batas waktu yang pasti untuk operasi militer tersebut. Ia menegaskan bahwa strategi militer akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah Amerika masih mempertimbangkan berbagai faktor dalam konflik tersebut.
Konflik ini bermula dari serangan besar yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran. Operasi militer tersebut kemudian memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Serangan awal tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran. Korban termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior. Laporan juga menyebut lebih dari 150 siswi menjadi korban dalam serangan tersebut.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan regional. Sejumlah negara dan organisasi internasional menyerukan upaya diplomasi untuk menghentikan konflik. Namun hingga kini operasi militer masih terus berlangsung.
Iran Balas Serangan dengan Rudal dan Drone
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke berbagai target di kawasan. Serangan tersebut menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat, fasilitas diplomatik, dan personel militer. Beberapa kota di Israel juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Iran menggunakan kombinasi rudal balistik dan drone dalam serangan tersebut. Operasi balasan ini meningkatkan ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Sistem pertahanan udara di Israel dan pangkalan Amerika di kawasan terus diaktifkan untuk mencegat serangan.
Dalam konflik yang sedang berlangsung, setidaknya enam anggota militer Amerika Serikat dilaporkan tewas. Korban tersebut terjadi dalam serangan yang menargetkan aset militer Amerika di kawasan. Kejadian tersebut menambah tekanan politik terhadap pemerintah Amerika.
Selain itu, laporan terbaru menyebut Iran menggunakan rudal yang membawa amunisi kluster dalam beberapa serangan. Penggunaan jenis amunisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai dampak kemanusiaan konflik. Serangan rudal dan drone terus dilaporkan terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam kondisi yang sangat tegang. Banyak negara memantau perkembangan konflik dengan cermat. Upaya diplomasi masih terus didorong oleh berbagai pihak internasional.
Iran Umumkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Baru
Di tengah konflik yang sedang berlangsung, Iran juga mengumumkan perubahan kepemimpinan penting. Majelis Pakar Iran menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei telah dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi baru. Ia menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Pengumuman tersebut disampaikan pada Minggu oleh lembaga keagamaan yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran. Pengangkatan Mojtaba Khamenei dengan cepat mendapatkan dukungan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Dukungan ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas politik negara.
Perubahan kepemimpinan ini terjadi di tengah situasi militer yang sangat tegang. Banyak analis menilai bahwa stabilitas politik Iran akan menjadi faktor penting dalam perkembangan konflik. Kepemimpinan baru kemungkinan akan menghadapi tantangan besar dalam waktu dekat.
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga menarik perhatian komunitas internasional. Beberapa pihak menilai perubahan kepemimpinan ini dapat memengaruhi arah kebijakan Iran. Namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai strategi pemerintah baru.
“Baca Juga: MacBook Neo Gen 2 Siap Hadir dengan Touchscreen”
Trump Singgung Masa Depan Kepemimpinan Iran
Dalam wawancara terpisah dengan ABC News, Donald Trump juga menyinggung kepemimpinan baru Iran. Ia menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei kemungkinan tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut memicu perhatian luas di berbagai kalangan politik.
Trump mengatakan bahwa pemimpin baru Iran perlu mendapatkan persetujuan dari Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa tanpa dukungan tersebut, kepemimpinan Mojtaba Khamenei akan sulit bertahan. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras pemerintah Amerika terhadap Iran.
Trump juga menegaskan bahwa pemerintahannya ingin memastikan konflik tidak berulang dalam jangka panjang. Ia menyatakan tidak ingin situasi serupa terjadi setiap sepuluh tahun. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari pendekatan kebijakan luar negeri pemerintahannya.
Komentar tersebut menambah kompleksitas dinamika politik dalam konflik yang sedang berlangsung. Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada pada titik yang sangat tegang. Komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi ini dengan perhatian besar.



