paingsoe – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ke-14. Hingga kini, belum ada indikasi bahwa pertempuran akan segera berakhir.
Serangan dari AS dan Israel terus berlanjut ke berbagai target di Iran. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan ribuan rudal ke wilayah Israel dan aset militer AS.
“Baca Juga: Yuan Wang 5 Datang, Dinamika Sri Lanka-China Terlihat”
Serangan tersebut berlangsung intens dan berulang setiap hari. Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius di kawasan.
Di Israel, serangan rudal dilaporkan terjadi hampir tanpa henti. Hal ini meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara negara tersebut.
Sistem Pertahanan Israel Tertekan Akibat Serangan Bertubi-tubi
Intensitas serangan Iran disebut membebani sistem pertahanan udara Israel. Stok rudal pencegat dilaporkan semakin menipis.
Beberapa laporan menyebut sistem pertahanan mulai kesulitan menahan serangan. Hal ini terjadi karena jumlah rudal yang diluncurkan sangat besar.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kerusakan di wilayah Israel. Ancaman terhadap infrastruktur dan keselamatan warga menjadi perhatian utama.
Di sisi lain, Amerika Serikat sebelumnya menyatakan Iran akan kehabisan stok rudal. Namun, fakta di lapangan menunjukkan serangan masih terus berlanjut.
Klaim IRGC Sebut Iran Mampu Serang Selama Dua Tahun
Pernyataan dari pejabat militer Iran menambah perhatian terhadap konflik ini. Garda Revolusi Islam Iran mengklaim memiliki kapasitas besar dalam persenjataan.
Mayor Jenderal Ebrahim Jabbari menyebut Iran mampu meluncurkan serangan selama dua tahun tanpa henti. Pernyataan ini disampaikan pada Juni 2025.
Ia menyebut gudang dan fasilitas rudal Iran sangat besar. Bahkan, sebagian kemampuan militer disebut belum sepenuhnya ditampilkan.
Jika klaim tersebut akurat, Iran memiliki cadangan signifikan untuk konflik jangka panjang. Hal ini menunjukkan kesiapan menghadapi perang berkepanjangan.
Konflik Meluas ke Kawasan Teluk dan Infrastruktur Strategis
Dampak konflik tidak terbatas pada Iran dan Israel. Negara-negara Teluk juga terdampak akibat keberadaan fasilitas militer AS di wilayah mereka.
Serangan Iran menyasar berbagai target di kawasan tersebut. Hal ini meningkatkan risiko keamanan di negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Ketegangan regional semakin meluas seiring eskalasi konflik. Negara-negara lain ikut terlibat secara tidak langsung dalam dinamika ini.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik memiliki dimensi regional yang kompleks. Stabilitas kawasan menjadi semakin rentan.
“Baca Juga: Intel Ungkap Risiko Kelangkaan CPU Segera Terjadi”
Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Iran juga mengambil langkah strategis dengan menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Penutupan tersebut berdampak langsung pada distribusi energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini.
Akibatnya, harga minyak melonjak hingga menembus USD 100 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi.
Dampak ekonomi dirasakan oleh banyak negara di dunia. Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus berlanjut selama konflik belum mereda.



