Rusia dan China Kecam AS Usai Sita Kapal Minyak Venezuela

Rusia dan China Kecam AS Usai Sita Kapal Minyak Venezuela

paingsoe – Amerika Serikat menyatakan telah menyita dua kapal tanker yang diduga terkait ekspor minyak Venezuela pada awal Januari 2026. Penyitaan dilakukan dalam dua operasi terpisah di Atlantik Utara dan Laut Karibia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington memperketat blokade minyak terhadap Venezuela.

“Baca Juga: Ambisi Trump soal Greenland Picu Protes Sekutu NATO”

Pemerintah Amerika Serikat menyebut operasi tersebut sebagai penegakan sanksi internasional yang masih berlaku penuh. Otoritas AS menilai kapal-kapal tersebut terlibat aktivitas ilegal yang bertujuan menghindari sanksi ekonomi. Penyitaan ini terjadi di tengah eskalasi tekanan politik dan militer terhadap pemerintahan Venezuela.

Operasi penyitaan diumumkan secara resmi setelah dilakukan pengamanan penuh terhadap kedua kapal tanker. Militer AS menegaskan bahwa tindakan tersebut sesuai hukum maritim internasional. Washington juga menegaskan bahwa blokade minyak Venezuela berlaku di seluruh wilayah dunia.

Operasi di Atlantik Utara terhadap Kapal Marinera

Kapal tanker pertama yang disita adalah Marinera, kapal berbendera Rusia yang berlayar di Atlantik Utara. Operasi dilakukan setelah pengejaran hampir dua pekan di perairan antara Islandia dan Skotlandia. Militer AS menaiki kapal tersebut tanpa perlawanan berarti.

Operasi ini mendapat dukungan logistik dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Dukungan tersebut mencakup aset udara dan laut untuk pemantauan pergerakan kapal. Militer AS menyatakan koordinasi dilakukan untuk memastikan keselamatan awak kapal.

Gedung Putih menyebut Marinera juga dikenal dengan nama lama Bella 1. Kapal tersebut dituding merupakan bagian dari armada bayangan Venezuela. Armada bayangan digunakan untuk menghindari sanksi dengan memalsukan identitas dan bendera kapal.

Laporan juga menyebut Rusia sempat mengerahkan kapal selam ke area tersebut. Namun, upaya tersebut tidak menghalangi pasukan AS menaiki kapal. Kapal Marinera kemudian dibawa ke lokasi aman untuk proses hukum lebih lanjut.

Penyitaan Kapal M/T Sophia di Wilayah Karibia

Kapal tanker kedua yang disita adalah M/T Sophia yang dicegat di kawasan Laut Karibia. Pemerintah AS menuding kapal tersebut melakukan aktivitas ilegal terkait ekspor minyak Venezuela. Kapal ini juga disebut bagian dari jaringan armada bayangan.

Menurut otoritas AS, kapal tanpa kewarganegaraan sah dapat dinaiki berdasarkan hukum internasional. M/T Sophia dianggap tidak memiliki status hukum yang jelas. Penyitaan dilakukan oleh pasukan AS tanpa insiden kekerasan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pemerintah Venezuela memahami langkah tersebut. Rubio menyebut Caracas memilih bekerja sama demi menjaga stabilitas ekonomi. Ia mengatakan kerja sama menjadi satu-satunya cara Venezuela memperoleh pendapatan minyak.

Rubio juga menyatakan bahwa minyak yang disita akan dijual di pasar global. Hasil penjualan akan dikelola Amerika Serikat. Pemerintah AS mengklaim langkah tersebut bertujuan menguntungkan rakyat Venezuela.

“Baca Juga: Grafis Xe3 Panther Lake Diklaim Setara GPU Gaming”

Reaksi Rusia, China, dan Ketegangan Internasional

Pemerintah Rusia mengecam keras penyitaan kapal berbendera Rusia oleh Amerika Serikat. Moskow menuntut agar awak kapal diperlakukan secara layak. Rusia juga meminta agar awak kapal segera dipulangkan.

Kementerian Perhubungan Rusia menegaskan Marinera memiliki izin sementara menggunakan bendera Rusia. Rusia menyatakan tidak ada negara berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal terdaftar sah. Pernyataan ini mempertegas protes diplomatik Moskow.

China turut mengecam langkah Amerika Serikat. Beijing menilai tindakan tersebut mengancam stabilitas keamanan energi global. China selama ini menjadi salah satu pembeli utama minyak Venezuela.

Ketegangan internasional meningkat seiring meluasnya operasi militer Amerika Serikat. Penyitaan kapal ini terjadi beberapa hari setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Situasi tersebut memperburuk hubungan AS dengan beberapa negara besar.

Dampak Politik dan Pengawasan Kongres Amerika Serikat

Di dalam negeri, langkah militer AS memicu perdebatan di Kongres. Sejumlah anggota parlemen mempertanyakan skala keterlibatan militer di Venezuela. Mereka menyoroti potensi biaya dan risiko politik jangka panjang.

Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer meminta kejelasan resmi dari Gedung Putih. Ia menuntut informasi jumlah pasukan dan anggaran yang digunakan. Schumer menegaskan pentingnya pengawasan legislatif. Senat Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemungutan suara pekan depan. Agenda tersebut membahas resolusi kekuasaan perang bipartisan. Resolusi itu bertujuan membatasi kewenangan presiden tanpa persetujuan Kongres.

Sementara itu, Komando Eropa AS dan Komando Selatan AS merilis pernyataan bersama. Mereka menegaskan penyitaan dilakukan sesuai hukum sanksi dan maritim. Militer AS juga merilis video operasi sebagai bentuk transparansi publik. Langkah penyitaan dua kapal tanker ini menandai eskalasi serius kebijakan Amerika Serikat. Dampaknya diperkirakan akan memengaruhi hubungan global dan pasar energi. Situasi ini kini menjadi sorotan utama diplomasi internasional.