paingsoe – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan Inggris ke Greenland. Greenland merupakan wilayah otonom Denmark yang belakangan menjadi sorotan geopolitik global. Wacana ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Arktik. Pemerintah Inggris menilai situasi keamanan regional semakin kompleks. Faktor utama yang disoroti adalah meningkatnya aktivitas Rusia dan China di wilayah tersebut. Greenland dinilai memiliki nilai strategis penting bagi keamanan Euro-Atlantik. Pertimbangan ini juga dipengaruhi oleh dinamika hubungan dengan Amerika Serikat. Pemerintah Inggris disebut tidak menganggap isu ini sebagai spekulasi semata. Ancaman keamanan di kawasan utara Eropa dipandang nyata dan mendesak. Oleh karena itu, opsi militer mulai masuk dalam diskusi strategis internal. Langkah ini masih berada pada tahap awal perencanaan kebijakan.
“Baca Juga: Clair Obscur Expedition 33 Dipuji Director Metaphor”
Retorika Donald Trump dan Rencana Aneksasi Greenland
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyuarakan keinginan menguasai Greenland. Trump menilai kehadiran Rusia dan China di kawasan Arktik sebagai ancaman langsung bagi AS. Ia menyebut Greenland memiliki posisi strategis yang krusial. Dalam beberapa pernyataan publik, Trump menyebut penguasaan Greenland sebagai kebutuhan mutlak. Ia bahkan menyamakan wilayah tersebut dengan kesepakatan properti berskala besar. Laporan media menyebut Trump telah memerintahkan militer AS menyusun rencana invasi. Pernyataan ini memicu kekhawatiran di Eropa. Retorika tersebut dinilai memperkeruh situasi geopolitik. Greenland kini berada di pusat rivalitas kekuatan besar dunia. Sikap AS tersebut menjadi latar belakang utama diskusi keamanan di Eropa.
Sikap Keir Starmer terhadap Ancaman Rusia dan China
Menurut laporan The Independent pada Senin, 12 Januari 2026, Keir Starmer memiliki pandangan serupa terkait ancaman Rusia. Sumber Downing Street menyebut Starmer menilai agresi Rusia di Kutub Utara meningkat. Ia menekankan pentingnya memperkuat keamanan Euro-Atlantik. Pemerintah Inggris dikabarkan menanggapi isu ini dengan sangat serius. Ancaman dari Rusia dan China dianggap berpotensi mengganggu stabilitas kawasan. Inggris menilai Arktik bukan lagi wilayah netral secara geopolitik. Kepentingan militer dan ekonomi kini semakin menonjol. Pandangan ini mendorong diskusi lintas sektor pemerintahan Inggris. Starmer disebut ingin memastikan Inggris siap menghadapi skenario terburuk. Namun, belum ada keputusan resmi yang diumumkan ke publik.
Pembicaraan Inggris dan Sekutu Eropa Soal Opsi NATO
The Telegraph melaporkan bahwa Inggris tengah berdiskusi dengan sekutu Eropa. Pembicaraan ini melibatkan kemungkinan pengerahan pasukan ke Greenland. Para kepala militer disebut mulai menyusun skenario misi NATO. Inggris telah bertemu dengan pejabat pertahanan dari Jerman dan Prancis. Pertemuan tersebut bertujuan memulai persiapan awal. Rencana yang dibahas masih bersifat konseptual. Opsi yang dipertimbangkan mencakup pengerahan tentara, kapal perang, dan pesawat tempur. Sumber menyebut misi bisa berbentuk pengerahan penuh atau latihan terbatas. Alternatif lain termasuk pertukaran intelijen dan pengembangan kemampuan militer. Pengalihan anggaran pertahanan juga masuk dalam diskusi. Semua opsi masih dievaluasi berdasarkan situasi keamanan regional.
“Baca Juga: Taiwan Tetapkan CEO OnePlus Pete Lau sebagai Buronan”
Penolakan Greenland dan Sikap Tegas Denmark
Di tengah wacana tersebut, para pemimpin politik Greenland menegaskan sikap mereka. Pada Jumat, 9 Januari 2026, mereka kembali menolak bergabung dengan AS. Pernyataan tersebut menegaskan identitas dan kedaulatan Greenland. Mereka menyatakan tidak ingin menjadi bagian dari AS maupun Denmark. Greenland menegaskan keinginan menentukan masa depan sendiri. Denmark juga secara tegas menolak proposal penjualan wilayah tersebut. Pemerintah Denmark menegaskan kedaulatan atas Greenland tidak dapat diganggu gugat. Meski demikian, minat internasional terhadap Greenland terus meningkat. Faktor lokasi strategis dan sumber daya mineral menjadi daya tarik utama. Situasi ini menempatkan Greenland di persimpangan geopolitik global. Ketegangan diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.




